Untuk Kamu yang Kadang Iri....

September 25, 2016 fikhanza 1 Comments


Kamu yang kadang iri, melihat temanmu berjaya. Padahal sepertinya mereka tidak berjuang sekeras yang kamu lakukan. Tidak bekerja sampai larut malam dan bangun sebelum datang pagi. Hidup mereka seperti putri kerajaan. Cukup tersenyum manis dan berdandan cantik karena toh semua sudah dijamin tanpa pengecualian.

Kamu yang kadang iri, temanmu punya karir cemerlang. Wara wiri ke negeri seberang dengan uang perusahaan. Mendapat penghormatan karena titel jabatan. Padahal kamu juga bisa ada di tempat itu jika kamu tidak melepaskannya demi zat tidak pasti bernama impian.



Kamu yang kadang iri, melihat temanmu tertawa riang dengan pasangan. Saat lelah mereka punya sandaran. Saat takut mereka punya perlindungan. Saat marah dan kecewa punya tempat pelampiasan. Padahal kamu percaya diri kamu juga pantas untuk disayang. Dicintai dengan penuh penerimaan.

Kamu yang kadang iri, temanmu bebas menghaburkan uang. Makan di kafe kekinian dan membeli fashion item branded dengan harga jutaan. Tanpa perlu kuatir nanti keluargamu makan apa. Tanpa perlu risih berbagi dengan saudara. Tanpa perlu bingung membayar uang asuransi dan tagihan. Tanpa beban soal tabungan masa depan.

Kamu yang kadang iri.. Ya, kamu. Kamu yang sering bertanya "kenapa mereka dan bukan kamu", yang mendapat semua rentetan kebahagiaan. Kamu yang kadang sakit hati karena dunia terlihat jahat membiarkanmu melakukan romusha tanpa jeda. Kamu yang kadang lelah. Sangat lelah.

Saya kenalkan kamu pada 2 sahabat. Yona namanya. Banyak alasan untuk tidak berteman dengannya. Prinsip kami banyak yang bertentangan. Tapi perbedaan itulah alasan kami terus berteman. Yona yang saya kenal adalah makhluk yang merayakan ke-BODO AMAT-annya. Dia tetap bisa berbahagia dengan kehilangannya sekaligus berbahagia dengan apa yang dia punya. Karirnya mungkin tidak secemerlang dulu, kuantitas jajan mahalnya mungkin tidak sesering dulu. Tapi Yona si master bodo amat memilih merayakan pencapaian impiannya, menjadi istri dan ibu.

Satu lagi sahabat saya bernama Cahya, banyak sifat kami yang bertolak belakang, tapi toh pada akhirnya kami tetap berkawan. Cahya bukan spesies pengambil resiko. Dia selalu bangga dengan slogannya "da aku mah apa atuh" dan hidup dalam aman. Berhasil dalam kamusnya adalah menjalani sesuatu yang aman, Berenang di kolam tenang. Dia punya banyak kesempatan untuk jadi tenar dan diakui. Tapi kalimat "saya sudah punya cukup banyak" selalu ampuh jadi obat penenang untuk terus bersyukur.

Kamu yang kadang iri.. Ya, kamu. Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Iri itu manusiawi. Berbahagialah kalau masih bisa merasakannya. Itu fakta nyata kamu masih menjadi manusia. Kamu yang kadang iri, kamu tidak perlu malu mengakui. Kamu adalah orang baik yang sudah dipastikan berbahagia. Cuma mungkin saat ini kamu sedang lupa. Lupa untuk bersyukur dan menerima dirimu apa adanya. Lupa mengapresiasi dan bersenang-senang dengan sahabat lamamu, yaitu dirimu sendiri. Kamu yang kadang iri. Kamu hanya perlu tersenyum dan berdamai. Bahagiamu kamu yang tentukan. Mungkin berbeda wujud dengan yang orang lain miliki, Tapi bukankah menjadi diri sendiri adalah hal indah yang harusnya selalu kamu syukuri?


Sebuah catatan, Bogor 25 September 2015.
Untuk kamu bernama Fika, dari sahabat lamamu yang bernama Fika. Jangan lupa tersenyum. Jangan lupa bersyukur :)




Find me on @fikhanza


1 komentar:

  1. Yak. Kalo gue sih cukup menjalankan peran gue selama ini. Kalau mendapat lebih ya rejeki lebih. Kalau belum bisa lebih, ya tetep rejeki. Bahkan kalau sedang merugi. Karena setiap hembusan nafas adalah rejeki.

    Apalagi kalau udah punya anak, udah gak sempet lagi iri harta. Gue lebih iri sama yang bisa spend waktu lebih banyak sama anak di rumah. Tapi sabtu-minggu aja udah bisa gue syukuri banget sih.

    Terima kasih sudah mengingatkan lewat tulisan ini

    BalasHapus