Senyum Mbok Jamu

September 27, 2010 fikhanza 6 Comments


Siluet sosok wanita yang berbadan agak membungkuk selalu terlihat sekitar jam 5 sore. Aku hapal betul cara berjalannya. Dengan kecepatan sedang dan jalan agak tertatih, dia menggendong bakulnya.

Namanya Mbok Sumi, akrab dipanggil mbok Sum. Warga asli Solo yang terdampar di ibu kota demi alasan "mencari uang". 10 tahun mengelilingi jalanan Jakarta dan akhirnya hijrah ke Kota Hujan. atributnya lengkap, bak militer yang siap tempur. Kebaya yang biasanya bermotif bunga dengan stagen di perut, kain batik, ember kecil berisi air dengan potongan jeruk nipis yang mengambang senang dan tentunya sebuah bakul berisi botol-botol kembar dengan cairan yang berbeda-beda di dalamnya.

Aku selalu menunggunya di depan rumah. Sambil membawa dua buah uang koin perak yang masing-masing bernilai seratus rupiah, aku duduk di kursi teras rumah dengan kaki yang menggantung tanpa mampu menyentuh lantai. Kadang-kadang aku memeluk boneka si Komo sembari bersenandung. Jam 5, biasanya suaranya sudah terdengar. Suara dari perempuan tua yang nampak jelas keriput di seantero wajahnya. Dengan logat khas Solo ia menawarkan dagangannya.

Beras kencur, itulah yang biasanya ku pesan dengan uang 200 rupiahku. Uang itu membuatku berhak mencicipi segelas beras kencur lengkap dengan seperempat gelas air jahe sebagai dessertnya. Teman-temanku selalu heran kenapa wajahku seperti bocah yang sedang menikmati es krim saat aku meneguk jamu. Ya, sebagian besar teman-temanku memang tidak menyukai jamu. Mereka pikir jamu itu pahit dan hanya diminum orang tua. Tapi toh, wajah ekspresif penuh kenikmatanku saat sedang menikmati jamu membuat mereka tergoda juga. Alhasil, bertambahlah pelangggan Mbok Sum.

Sore itu ada yang tidak biasa. Mbok Sum tidak tampak berjalan sambil menggendong bakulnya. Kini Ia membawa sepeda! Sepeda ontel yang memang sudah agak karatan di beberapa bagian. Dia bilang, dia membeli dari kenalannya yang hendak pulang ke kampung halaman. Aku berjingkrak senang. Seperti layaknya bocah perempuan yang dibelikan boneka baru. Mbok Sum pun senang karena dia tidak perlu berjalan lagi untuk menjajakan jamunya.

Tahun berikutnya, hadir lagi sore yang tidak biasa. Aku tidak melihat mbok Sum berjalan ataupun menggoes sepedanya. Kali ini aku benar-benar tidak melihanya. Satu minggu lamanya. Akhirnya aku berinisiatif bertanya pada temannya yang seorang tukang becak. Dengan seragam putih merah lengkap dengan tas gemblok bergambar power ranger, aku menyambangi pangkalan becak. Di sana aku bertemu Pak Aris, teman Mbok Sum yang juga berasal dari Solo. Sontak aku terkejut karena beliau bilang Mbok Sum sudah pulang ke kampung halamannya. Dia tidak menjelaskan apa alasannya. Yang jelas satu yang pasti, Mbok Sum tidak akan kembali ke sini.

Sepeninggal Mbok Sum, muncul beberapa penjual jamu di lingkungan rumahku. Tapi mereka bukan spesies jamu gendong, melainkan kios kecil yang menjual berbagai macam jenis dari kingdom jamu. Aku cukup senang, setidaknya lidahku tetap bisa menikmati beras kencur dan jahe.

Saat ini aku mendapati diriku sudah berusia 21 tahun. Kemarin sore, aku menyempatkan berkeliling dengan mengendarai motor. Kios jamu itu masih ada, tapi hanya tinggal plang nama. Katanya jamu sekarang sudah bukan lagi primadona. Orang-orang lebih memilih suplemen dan vitamin berbentuk pil dibanding tanaman tradisional racikan tangan. Ya begitulah evolusi, kadang-kadang modernisasi dengan robot di sana-sini merampas kejayaan keterampilan tangan. Buatan pabrik dianggap lebih praktis dan jelas uji klinis. Aku cuma berpikir, kapan lagi gerangan, aku bisa berbincang riang di sore hari yang tenang dengan seorang penjual jamu gendong? Yaaah, semoga kesempatan itu masih ada. Semoga...



Teruntuk Mbok Sum dan para penjual jamu gendong yang tidak gentar dibuldozer oleh kemajuan zaman. Salam sayang untuk kalian semua :)

6 komentar:

  1. tulisannya bagus sekai!
    seharusnya masuk jurusan sastra :)
    tapi eh ternyata... mba fika ambil jurusan DKV :)

    salam hangat dari majalah marketplus

    BalasHapus
  2. wah keren banget blog nya gan
    bisa buat sharing nih.
    oya kunjungan balik ya gan di
    http://horror-mediafire.blogspot.com/

    BalasHapus
  3. Market Plus: wah suatu kehormatan dikomen sama (ini admin atau sejenis tim suksesnya ya? ^^) majalah sekeren Marketplus yg biasa aku baca klo lg naik taksi. Aku SPMB memang dpt sastra UI mas (atau mbak? hihihi) cuma entah kesurupan apa tiba2 malah milih DKV :D

    BalasHapus
  4. Cassanova: Wah ini ada laskar kaskus kayaknya nih, hihiihi. Yippi blogmu udah ku kunjungin kok. Thx for coming yaaa ^^ *salaman*

    BalasHapus
  5. ahahah bahasanya katanya marketplus terlalu formal :D tapi seru kok kak :D hehe Mantap.

    BalasHapus