Mak Lampir Di Ujung Jalan

September 16, 2010 fikhanza 0 Comments


Gelap, Sepi, dan jalan sendiri! Wah satu yang agak bisa dipastikan ya jelas sesuatu yang horor. Waktu itu memang hari Kamis. Itu juga berarti malam itu malam Jumat. Dan seingatku, malam itu juga malam kliwon. hmmm, lengkaplah sudah! T.T

Sambil komat-kamit aku memegang erat handphone ku. Berlagak sedang sibuk sms-an sambil headphone yang ukurannya super lebay bertengger di kepalaku. Mungkin makhluk tidak kasar a.k.a makhluk halus a.k.a demit a.k.a panampakan urung menggaguku kalau melihat aku sedang sibuk sms-an. Ya, siapa tahu mereka belajar tatakrama tentang "hak asasi orang yang sedang sms-an" di sekolahnya. Siapa tahu. Mudah-mudahan memang begitu. Aminnnnnn

Aku sama sekali tidak mempercepat langkah, karena temanku waktu kecil pernah bilang, "eh setan itu kan ga berani nakutin orang yang berani loh. Jadi jangan keliatan takut". Yah, mungkin kalau aku kelihatan santai, mbak dan mas demit juga batal mengeluarkan jurus-jurus tapak geninya. Dan langsung balik kanan mencari mangsa yang lain.

Di ujung jalan aku melihat warung. Warungnya sangat sederhana. Sejenak aku berdiri memperhatikan di depannya. Aku melihat sepiring spesies gorengan dan jajanan pasar lainnya. Sebenernya aku agak lega karena setidaknya saat itu aku bukan satu-satunya manusia yang ada di jalan itu. Aku coba melongok ke arah warung. Di situ ku lihat ibu-ibu agak tua sedang menggoreng. Entahlah apa yang tepatnya sedang dia goreng. Aku memutuskan untuk mampir. Aku duduk di kursi kayu panjang. Si ibu tersenyum dan menawarkan dagangannya. Aku memesan segelas teh hangat dan tanganku spontan langsung berlari ke piring yang di atasnya bertengger gerombolan pisang goreng yang sepertinya sedang merayuku dengan gayanya masing-masing. Aku memlih pisang goreng yang paling besar. Sambil melahap si pisang dan teh, aku melihat beberapa orang yang mulai berdatangan. Mereka sepertinya tukang becak dan pedagang kaki lima.

Suasana menang sangat cair. sangat akrab. Aku ikut andil dalam celotehan di kamis malam itu. Dan pada akhirnya kami sampai ke isu yang sebenarnya sangat ku hindari. Isu horor!

Abang becak salah satu dari mereka menyeletuk, "Neng kok berani jalan sendirian di sini? Emang ga takut?"

Aku dengan memasang wajah penuh tipu daya dengan santai berkata, "hehe, emang takut apa bang? wong ga ada apa-apa kok. Santai aja bang. Ga usah takut sama yang serem-serem."

Si abang lalu menimpal, "lah di sini kan emang terkenal sama mak lampirnya neng. Semua orang juga tau kok. Dia keluar klo malem neng."

Aku kaget dan melongo bengong. Aku mengingatkan diriku untuk tidak melewati jalan ini lagi jika matahari sudah mulai sembunyi dari langit dan pulang ke rumahnya untuk makan malam sambil menonton telenovela. Jangan lagi, jangan lagi, berulang-ulang aku mengingatkan diriku sendiri.

Akhirnya para pejuang transportasi yang sudah agak ditinggalkan itu pun berbagi cerita. Mereka tertawa melihat wajahku yang mendadak putih. Lebih putih dari model iklan cream pemutih.

"Tenang neng. Ari mak lampirna teh ya si ibu ini neng. ga usah takut. Warung ini namanya warung Mak Lampir. Si ibunya teh namanya Mak Lami. Cuman sering dipanggil Mak Lam. Nah, berhubung warungnya cuma buka kalo malem, jadi ya kita namain aja warungnya pake nama Warung Mak Lampir. Kitu neng, ulah sieun nyak."

Mukaku makin bengong bego. Mulutku saat itu cuma mengeluarkan satu kata denga napas sepanjang gerbong kereta Jakarta-Jogjakarta, "Ooooooooooooohhh"...... -_-'

0 comments: