Ketika lidahku jatuh cinta

September 14, 2010 fikhanza 0 Comments



Rasanya aneh. Jantung kembang kempis, perut mulas saking groginya, dan keningku ini penuh keringat. Ya, rasanya memang aneh kalau aku bertemu dia. Apa ini tanda aku jatuh cinta?? Apa? fika jatuh cinta?!


Saat itu aku sedang duduk manis menunggu jemputan. Di depan sekolah, di bawah pohon nangka gigantisme, di bangku kayu panjang. Di dekatku ada seorang laki-laki tua sedang melamun. Mukanya kepayahan, tapi di matanya bersinar api semangat yang hampir sama seperti api olimpiade. Di sampingnya bertengger tegap sebuah gerobak tua. Catnya pun biru tua. Di bagian depannya terdapat tulisan Doa Ibu. Di bagian tengahnya terlihat jelas panci raksasa yang menghembuskan napas panas berbentuk asap. Tapi baunya sama sekali tidak memuakkan. Malah sebaliknya, membuat liurku lumer seketika.


Sang lelaki tua tersenyum tulus padaku, sambil menunjuK gerobaknya dia berkata, "arek dahar neng? murah kok, 1500 semangkok". Otakku menimbang. Pesan Ibu menggaung keras di kepala. "Jangan jajan sembarangan ya, Nak." Tapi aku kan masih kecil. Adalah sesuatu yang wajar kalau aku nakal. Malah, kalau anak kecil terlalu penurut, itu salah satu tanda tidak normal. Akhirnya aku meringis lebar. Sambil mengangguk aku memberi komANdo, "Satu bang! ga pake caos ya. Kuahnya yang banyak. Ayamnya juga banyakin ya bang. Terus mie nya juga tambahin." Si lelaki tua tersenyum senang. Mungkin hatinya bilang "Haha dasar anak kecil, apa-apa maunya di tambahin."


Sim salabim! Tolong dibantu ya! Ayo dibantu! Sim salabim jadi apa prok prok! Yihaaa, tiba-tiba di depanku sudah ada semangkok tepung panjang seperti benang kusut. Rasanya sama sekali tidak kusut. Enak! Enak sekali, malah!


Itulah saat aku bertemu dengannya. Dan sejak saat itu aku mendeklarasikan bahwa hatiku sudah jatuh cinta. Jatuh cinta pada MIE AYAM!


Dulu aku tidak pernah pakai sambal. Tapi berhubung lidahku berevolusi, gaya pesananku mulai berubah. Dan sampai saat ini aku selalu memesan dengan cara yang sama. "Mie ayam ga pake bakso, pake sambel 1 sendok, lada yang banyak, ga pake saos, sawi yang banyak, kuah yang banyak, dan klo bisa mie sama ayamnya juga dibanyakin ya Bang."


Sampai sekarang aku sering berdoa, untuk dipertemukan dengan orang jenius yang menciptakannya. Entahlah, apa dia orang Indonesia, China, Amerika atau bahkan Afrika. Yang jelas aku sangat ingin bersua. Jika dia memang sudah tiada, setidaknya aku tahu siapa dia. Aku juga sangat berharap beliau mendapat hadiah nobel atas karyanya yang luar biasa.... MIE AYAM


Inilah apresiasi sederhana dari seorang bocah, untuk sang pencipta mie ayam, untuk para abang-abang mie ayam yang setia mendorong gerobaknya, untuk para pengusaha mie ayam, dan tentu saja untuk semua penikmat mie ayam. Salam MIE AYAM! :D

0 comments: