Balada Teh Tubruk

September 16, 2010 fikhanza 2 Comments


Dia tersenyum. Berjingkrak-jingkrak persis bocah diberi lolipop. Aku tidak tahu kapan terakhir melihatnya bergairah seperti itu. Dipuja di masanya. Sampai-sampai orang rela membobol dompet untuk sekedar bisa bercengkrama sambil menghirup aroma seksinya.

Hujan sepertinya sedang pesta besar-besaran. Di meja teras tampak singkong rebus yang sedang kegerahan. Mereka mengepulkan asap hangat dari tubuh lunaknya. Di sampingnya berdiri bijaksana secangkir air berwarna coklat keemasan. Di dasarnya tampak daun berwarna hitam berjejal-jejalan. Mungkin mereka sedang antri sembako. Di permukaannya pun tampak daun hitam yang sama sedang mengapung santai. Mirip perenang yang sedang berenang dengan gaya punggung sambil mengenakan bikini. Makin lama warna airnya makin keemasan. Cantik sekali. Lebih cantik dari Dian Sastro dan Marni, kembang desa anak Pak Lurah desa sebelah. Kadang, sedikit terlihat butir kristal kecil-kecil di dalamnya. Gula-gula itu melayang-layang sambil menari jaipong di dalam gelas.

Si bocah perempuan kecil di depannya masih terbengong-bengong melihat semua itu. Dia terperangah, terpesona malah. Sambil kadang menghembuskan udara lewat mulutnya, dia mendayung air dalam gelas itu dengan sendok yang ujungnya berbentuk sapi menjulurkan lidah. Fuhhh, fuhh, fuhhh, begitulah bunyi suaranya ketika meniup air keemasan. Bocah ini masih menunggu. Sampai si air sedikit menurun demamnya. Rupanya bocah ini takut lidahnya kepanasan. Dia masih menunggu dan akhirnya segelas air itu pun masuk ke mulutnya. Bernyanyi dan meloncat di atas lidah. Sebelum akhirnya terjun bebas ke dalam perut.

Begitulah kejadian yang berlangsung hampir setiap hari di rumah itu dan mungkin di setiap rumah. Sampai akhirnya primadona baru muncul dengan slogannya, "ga perlu repot kalo mau nge-teh". Dia dibombardir pesaingnya. Mulai dari teh celup, teh botol, teh kantong bundar, sampai teh kotak. Mungkin suatu saat nanti akan muncul teh prisma segitiga dan teh trapesium.


Dia tidah pernah marah kok. Dia tetap tersenyum lebar. Lebih lebar dari senyum para pegawai kantoran saat gajian. Dia tetap melayani dengan totalitasnya. Dengan menawarkan kesederhanaannya. Apa adanya. Begitulah dia. Balada segelas teh tubruk. Teh yang mungkin saat ini hanya dinikmati si mbah-mbah sambil mendengar uyo-uyon dan campursari dari radio butut. Teh tubruk yang selalu bersedia memanjakan lidah kita walau kita sudah melupakannya. Teh tubruk yang baik hati, tidak sombong tapi tidak gemar menabung. Karena memang teh tubruk tidak pernah mau menabung. Dia memberi semua hartanya kepada kita. Tanpa menyisakan untuk dirinya sendiri. Semuanya untuk kita, para penikmatnya yang setia.


Salam sederhana untuk para teh tubruk mania di seantero bima sakti :)

2 komentar:

  1. Ahahaha... dari segelas teh tubruk aja bisa muncul cerita selucu ini :D

    Salam kenal fika :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha soalnya aku penggemar teh tubruk, teh tubruk itu inspirasiku, hehehe. Salam kenal jugaaa :)

      Hapus