Antara Aku, Dia, dan Penggusuran

September 16, 2010 fikhanza 0 Comments


Romantis sekali. Saat hujan yang malu-malu menyapa kotaku. Aku duduk di sana. Di sebuah tikar lesehan sederhana bermotif kotak-kotak. Warnanya coklat lusuh. Di beberapa bagiannya jelas terlihat bagian-bagian yang berlubang. Aku menunggunya. Selalu setia menunggunya. Walaupun banyak orang yang juga mengaguminya dan kurasa dia sibuk melayani mereka. Tapi aku tetap setia menunggunya, bukan untuk yang pertama, tapi untuk yang kesekian kalinya.

Beratap terpal biru dan oranye dengan lantai tanah. Sederhana memang. Bahkan sepertinya kurang pantas dijadikan tempat kencan untuk anak muda jaman sekarang. "kurang elite" katanya. Tapi orang-orang yang setia sepertiku pasti tetap mendatangi. Demi kembali merajut romantisme bersama segelas minuman hangat yang tidak hanya nyaman di lidah tapi juga di perut.

Biasanya sang pelayan akan menanyakan kami "mau pesen apa?". Mereka memang tidak secantik dan setampan waitress di restoran dan hotel berbintang. Tanpa make up. Hanya kaos oblong seadanya ditambah sendal jepit yang kadang warnanya sudah tidak bisa dikenali. Tapi mereka pelayan yang ramah. Seramah minuman yang mereka sajikan. Minuman warisan eyang kakung dan eyang putri kita. Minuman yang katanya menyehatkan dan lezat. Saking bermanfaatnya, mungkin akan sulit menjabarkan khasiatnya satu per satu. Minuman yang tidak hanya memanjakan lidah dan perut tapi juga memanjakan kantong. Hanya dua ribu rupiah untuk segelas minuman leluhur ini. Apalah artinya dua ribu rupiah di kota metropolitan? tarifnya sama seperti tarif mandi di toilet umum.

Perkenalkan kekasih lidahku, sekoteng. Resep sederhana yang tersebar dengan leluasa di Bumi nusantara. Dari kolaborasi jahe dan gula dia tercipta. Mereka bukan makhluk angkuh yang hanya mau duet berdua. Mereka mengajak kacang ijo, kacang sangrai, roti dan mutiara untuk ikut serta. Kadang susu kental manis pun siap bergabung walaupun dia hanya jadi tim penggembira. Luar biasa bukan? dua ribu rupiah untuk menikmati aksi teatrikal mereka. Minuman yang mengajarkan kesederhanaan juga mengingatkan nilai kekeluargaan. Itulah mereka. Kumpulan bahan alam yang bahu-membahu menciptakan sensasi luar biasa tidak hanya di lidah dan perut, tapi juga HATI.

Tadi pagi aku melewati tenda sederhana itu. Berharap nanti malam bisa berkunjung dan berkencan dengan sekoteng. Tapi hatiku hancur saat melihatnya sudah tidak ada di situ. Dia sudah pergi. Entahlah kemana perginya. Kini di situ hanya ada jejeran traktor. Mesin raksasa yang siap menggusur tempat romantisku. Ku dengar pemerintah akan membangun jalan di sana. Ku harap lahan kosong di pinggir jalan akan mejadi tempat sekotengku yang baru. Tapi apa daya, ternyata lahan itu pun akan menjadi tanah jajahan yang disediakan untuk restoran cepat saji buatan luar negeri.

Malang nian nasib sekotengku. Ke mana gerangan saat ini dia pergi? Apa ada manusia baik hati yang mau memberinya tumpangan untuk sekedar mendirikan tenda sederhana dan menggelar tikar lusuh agar dia tetap bisa melayani pecintanya? Semoga saja. Karena inilah bumi asalnya, Indonesia.

* Khusus ku dedikasikan untuk warung sekoteng di persimpangan Pemda Bogor. Semoga kita bisa bersua lagi :)

0 comments: